PAREIDOLIA : Fragment of Intuition
Artmeru Gallery
Pameran ini hadir atas pertemuan yang sebelumnya berjarak dan asing, bahkan tak saling mengerti, dan tiba-tiba saling bertemu. Tak jarang unsur-unsur yang bertemu ini justru begitu mudah dan indah bercampur, melahirkan sesuatu baru. Pemikiran ini menjadi ajakan untuk memahami bahwa dalam pertemuan sekecil, sesingkat, dan sesederhana apapun mampu menciptakan dan memunculkan peristiwa baru. Pertemuan yang dimaksud di sini adalah pertemuan pertama antara Artmeru dan Vinautism Art Gallery: dua institusi dari dua kota. Dari pertemuan itu lahir keinginan untuk memandang karya-karya yang lahir dari beragam struktur kognisi manusia yang dinilai sebagai satu kemungkinan cara melihat.
Pameran "Pareidolia: Fragment of Intuition" menggali cara pandang dan signifikansi bercerita manusia dalam lingkup seni rupa. Istilah pareidolia dipinjam dari psikologi dan dari bahasa Yunani para (menyerupai, di samping) dan eidolon (gambar, bentuk) merujuk pada kecenderungan manusia mempersepsikan pola atau wajah dari objek yang sebetulnya acak.
Pemaknaan inilah yang dipinjam pameran ini sebagai metafora kerja. Judulnya diambil dari gagasan "melihat bentuk dengan beribu makna" mendudukkan kemampuan menciptakan makna yang dianggap tidak berbentuk, tetapi justru mampu memunculkan persepsi. Sub-judulnya, Fragment of Intuition, adalah luaran dari persepsi itu: kepingan-kepingan interpretasi yang disusun menjaditindakan yang diungkapkan. Memandang pareidolia sebagai metode kerja mengarahkan pameran ini pada satu tujuan: menjelajahi ragam praktik artistik sebagai upaya memperluas aksesibilitas seni serta menciptakan budaya yang lebih inklusif. Seniman yang hadir dalam pameran ini mencerminkan keragaman itu: ada yang neurodivergent, ada yang tidak, berbagi satu ruang pamer tanpa dilihat siapa yang lebih layak. Upaya semacam ini bukan hal baru di ekosistem seni Indonesia. Di Bandung, TAB Space bekerja dengan pendekatan yang serupa. Di Yogyakarta, ada Jogja Disability Arts (JDA), dengan sikap kuratorial yang tegas: menjadikan penyandang disabilitas sebagai pelaku utama di ruang seni.
Pareidolia meneruskan posisi itu: kolaborasi dalam pameran ini bukan penciptaan karya bersama antara seniman Artmeru dan seniman Vinautism. Seluruh karya adalah murni hasil kerja kreativitas individu seniman-seniman. Peran Artmeru adalah sebagai wadah kuratorial, membaca arah artistik dari karya-karya, dan memperkenalkannya ke publik Malang Raya
Participating Artists
- Vincent Prijadi Purwono
- Celena Aline Setioko
- Ian Theodore Pantoro
- Ashlee Joestine Santoso
- Joshua Liem
- Joshua Setiawan
- Clive Alexander Wang
- Jason Wijaya
- Muhammad Khairul Anam
- Victoria Sharon Hoo
- Mr. Buzz
- Dom R Wijaya
- Tarissa Najwania
- Nathaniel Adinata Manyakori
- Cayden Jeremy Utama
- Carlston Jonathan Utama
- Niki Pramudita Harcia
- Zoey Kirana Harcia
- Edric
- Avery Sean Handoko
- Yulia Wulandari
- Syaifudin Ma'ruf
- Torando Rodina
- Dyan Condro
- Chiara Dewi Catlina Agustin
- Stevin Junnia Umbu Lado
- Kenar Dananjaya
- Le Nger Atharrazka
- Jeremi Tyo Wiriyanto
- Vincent Liem Wibisono