Parimarna
Keadilan rupanya punya seragam. Berdiri tegak wajahnya tenang seperti tidak pernah punya urusan dengan manusia yang sedang ribut di bawahnya. Kita sudah begitu akrab dengan bentuk itu sampai lupa bertanya, sejak kapan keadilan harus memakai wajah seperti itu. Maka tubuhnya saya biarkan tumbuh menjadi pohon. Bukan lagi sosok yang datang dari tempat jauh untuk mengajari kita bagaimana menimbang, tetapi sesuatu yang harus berakar di tanah tempat manusia hidup, makan, bertengkar, mencintai, dan saling berebut hak. Kalau hukum hanya sibuk meniru bentuk yang sudah jadi, barangkali ia memang akan terlihat gagah, tetapi belum tentu mengerti tanah yang diinjaknya.

