Tanpa Palupi
Padi dan kapas berdiri sebagai lambang yang sudah terlalu sering kita hafal, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Di antara keduanya saya sisipkan sebuah sendok. Benda kecil yang tugasnya sederhana mengambil, menyuap, dan memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Sendok itu sengaja mengambil bentuk Eropa, seolah-olah ada sesuatu yang datang dari luar dan sampai hari ini masih ikut menentukan bagaimana kita makan, bagaimana kita mengatur meja, bahkan bagaimana kita memandang diri sendiri. Tetapi pada pangkalnya terlihat Semar. Bukan raja, bukan pejabat, bukan juga manusia biasa. Ia dewa yang memilih menjadi rakyat. Mungkin karena menjadi dewa terlalu mudah, sementara menjadi manusia ternyata jauh lebih sulit.
